Majelis Ilmu HISSI Tangsel, Warnai Tangsel dengan Pemikiran dan Gagasan

HISSI Tangsel– Belum genap setahun berdiri, kepengurusan Himpunan Ilmuwan dan Sarjana Syariah Indonesia (HISSI) Tangerang Selatan terus memberikan perannya dalam ranah pemikiran dan gagasan, khususnya di wilayah Tangerang Selatan, Banten. Dibawah komando Nurdin, S.Th.I, M.Si, HISSI Tangsel menunjukkan geliatnya sebagai kumpulan para ilmuan dan sarjana syariah. Hal itu terlihat dari rutinnya HISSI Tangsel mengadakan kegiatan kajian bulanan.

Seperti diketahui, lahirnya HISSI berawal dari sebuah Seminar Internasional tentang Hukum Islam di Asia Tenggara yang diselenggarakan oleh Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pada 9 Desember 2007 silam. Kala itu, peserta seminar meginginkan terbentuknya sebuah organisasi yang mewadahi para ilmuwan dan sarjana syariah. Selanjutnya terpilihlah, Prof. Dr. Amin Suma sebagai Ketua Umum HISSI priode pertama hingga saat ini.

Sebagai sebuah organisasi kemasyarakatan, HISSI mempunyai misi memberikan landasan nilai-nilai kesyariahan dalam pembentukan dan pengembangan perundang-undangan di Indonesia, hal itu tercantum dalam Anggara Dasar dan Rumah Tangga (AD ART) HISSI. Usaha yang dilakukan HISSI antara lain menyelenggarakan pertemuan untuk mengkaji dan merumuskan konsep-konsep syariat Islam yang berguna bagi pembinaan hukum nasional.

Untuk HISSI Tangesl sendiri, kini sedikitnya telah melaksanakan tiga kali kajian bulanan dengan berpindah-pindah tempat. Nurdin selaku Ketua Umum HISSI Tangsel mengatakan, tujuan diadakannya kajian atau diskusi ini adalah untuk memperkaya dan mempertajam ilmu tentang syariah.

“Edisi yang lalu kita telah mengkaji tentang Ekonomi Islam dan untuk saat ini kita mengkaji soal Hukum Islam. Tujuannya tentu saja untuk mendalami, memperkaya dan mempertajam dasar-dasar atau teori tentang Hukum Islam itu sendiri, kalau kita merujuk pada diskusi pada malam hari ini. Itu dari sisi internal. Dari sisi eksternal, kita ingin memberikan informasi kepada masyarakat umum tentang perspektif atau cara pandang HISSI tentang kajian yang kita bahas. Fokus kajian memang di syariah, tapi kita juga bahas disiplin ilmu lain,  ” ujar Nurdin, S.Th.I, M.Si, selaku Ketua Umum HISSI Tangsel  kepada Majalah Ibadah sesaat sebelum dimulainya kajian bulanan ketiga di Pondok Benda Pamulang Tangsel, Jum’at (13/10/17).

Nurdin melanjutkan, pada awalnya kajian bulanan HISSI dimaksudkan untuk pengurus saja, namun karena banyaknya kalangaan yang antusisas maka dibukalah untuk umum.

“Pas kita coba publish ternyata banyak yang berminat. Akhirnya kita bersepakat kajian ini untuk pengurus dan juga masyarakat yang berminat silahkan ikut,” pungkas Nurdin.

Mengenai tempat diskusi yang berpindah-pindah, Nurdi menjelaskan, hal itu dilakukan untuk mempererat tali silaturrohmi.

“Kita metodenya menjelajah. Kita utamakan ke rumah-rumah pengurus HISSI. Ini dilakukan semata untuk mempererat tali silaturrohmi. Jajdi silatul fikri dapat, silaturrohminya juga dapat. Jadi itu tujuan kenapa tempatnya berpindah-pindah,” sambung Nurdin.

Ia berharap, kajian-kajian yang dilakukan oleh HISSI bisa memasyarakat, dipahami dan juga disyiarkan. Untuk narasumber sendiri lebih mengutamakan keluarga besar HISSI, karena didalamnya terdapat banyak pakar, profesor, doktor dan lain sebagainya.

“Namun kedepan tidak hanya dari pengurus HISSI saja, ada juga para ulama, ilmuan dan para akademisi yang tentunya kita sesuaikan dengan tema diskusi,” papar Nurdin.

Lebih lanjut ia menjelaskan, untuk priode pertama kepengurusan HISSI Tangsel lebih mengambil peran pemikiran dan gagasan, maka konsentrasinya adalah kontribusi pemikiran dan gagasan untuk pemerintah daerah dan masyarakat secara umum.

“Selain itu, kita juga akan mengadakan kegiatan-kegiatan sosial dan lomba karya tulis ilmiah tingkat SMA tentang CEMORE-nya Tangsel,” tutur Nurdin.

CEMORE merupakan singkatan Cerdas, Modern dan Religius yang menjadi moto kota Tangerang Selatan. Hal itu sejalan dengan jargon HISSI yaitu, “Memasyarakatkan syariah, dan mensyarikan masyarakat”.

“Apa yang menjadi pemikiran-pemikiran dari diskusi ini kedepannya diharapkan menjadi masukan untuk pemerintah, khususnya Tangsel. Jadi semoga ini semakin mewarnai Kota Tangsel yang mempunyai moto cerdas, modern dan religius,” tutup Nurdin.